Dikutip dari http://www.jpnn.com/berita.detail-70717
Di Jawa, PLN perlu 5000 Pasukan Berani Mati.
INI tidak ada hubungannya dengan kenaikan TDL. Baik yang lalu maupun yang konon akan naik lagi Januari tahun depan. Ini soal kebiasaan di PLN yang sudah lebih 30 tahun tidak kunjung berubah: listrik mati dengan alasan sedang dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan trafo maupun jaringan. Jaringan tegangan menengah maupun tegangan rendah.
Padahal di Jakarta saja, setiap hari dilakukan 36 pemeliharaan jaringan di 36 lokasi. Ini berarti dalam sebulan terjadi hampir 1.000 kali pemeliharaan. Ini hanya di Jakarta. Artinya dalam sebulan hampir 1.000 kali pula listrik mati secara "sah" di Jakarta.
Pelanggan tentu tidak lagi peduli kematian itu sah atau tidak. Toh akibatnya sama: daging di kulkas busuk, ikan koi di akuarium mati dan apakah rambut yang tengah disampo di kamar mandi harus dibiarkan kering?
Zaman sudah berubah. Tinggal PLN yang belum berubah di bidang ini. Dulu, 30 tahun lalu, orang masih bisa menerima listrik mati, asal jangan malam hari. Maka pemeliharaan dilakukan siang hari. Antara pukul 08.00 sampai 16.00. Delapan jam. Dulu, belum ada kulkas dan belum ada ikan koi. Kalau listrik mati delapan jam bisa ditinggal ke sawah atau ke pasar.
Dulu, ketika pelanggan masih sedikit, komunikasi masih mudah. Setiap kali dilakukan pemeliharaan PLN masih sempat memberitahu semua pelanggan lewat surat. Lalu diiklankan di koran setempat. Tapi pengumuman seperti itu kini tidak lagi bisa menjangkau seluruh pelanggan. Walhasil pelanggan tidak tahu lagi apakah lampu di rumahnya mati karena pemeliharaan atau mati karena disantet.
Inilah yang membuat citra byar-pet masih belum bisa hilang. Tidak bisa segera berubah menjadi pet-byar. Padahal pemadaman bergilir akibat kekurangan daya listrik sudah tidak terjadi lagi sejak 30 Juni 2010 lalu.
Yang membuat pelanggan juga tidak bisa menerima lagi listrik mati adalah ini: TV swasta. Dulu, 30 tahun lalu, hanya ada TVRI "itu pun pagi hari tidak siaran. Kini acara-acara TV bukan main serunya. Kalau dulu boleh mati lampu asal siang hari, kini tidak mungkin lagi: ibu-ibu sudah banyak yang kecanduan sinetron atau Take Me In.
Maka tidak ada jalan lain: PLN yang harus berubah.
Bisakah kebiasaan selama lebih 30 tahun berubah cepat? Seorang anggota DPR asal Lombok bukan main marahnya. Listrik di rumahnya di Mataram, mati. Berkali-kali dia mengirim SMS yang isinya menunjukkan kemarahannya itu. Dia mengira masih terjadi pemadaman bergilir seperti di masa lalu. Padahal ini keteledoran yang memang tidak bisa diterima: sekring trafo kecil di dekat rumahnya putus. Tidak kunjung diperbaiki.
Begitu marahnya anggota DPR tersebut sehingga saya tidak cukup hanya minta maaf. Saya pun menulis jawaban begini: kalau bapak mengizinkan, karyawan yang tidak segera memperbaiki sekring itu akan saya pecat!
PLN, mau tidak mau memang harus berubah.
Kebiasaan panjang melakukan pemeliharaan sampai mematikan lampu selama delapan jam itu harus diakhiri. Inilah tekad baru seuruh jajaran PLN sekarang ini. Kini rapat-rapat di PLN diisi dengan agenda bagaimana mengubah kebiasaan yang sudah mendarah-mendaging ini. Ini tidak mudah, tapi harus berhasil.
Di mana-mana saya mendiskusikan soal ini sekarang. Saat di Riau misalnya, ada usul bagaimana kalau pemeliharaan dilakukan di hari Minggu. Usul ini kelihatannya masuk akal. Tapi saya masih keberatan. Di hari Minggu pun kini listrik tidak boleh mati. Banyak orang kawin di hari minggu.
Mereka akhirnya menyepakati pemeliharaan dilakukan malam hari, antara jam 23.00 sampai jam 04.00. Setelah para pengantin ditinggalkan para tamunya pulang. Di saat pengantin berangkat ke peraduan inilah petugas PLN mulai berangkat ke lapangan memanjat iang-tiang listrik. Lalu mematikannya. Gelap.
Berarti mereka akan bekerja malam. Tidak apa-apa. Toh masinis kereta api, pilot jurusan antar benua, pegawai percetakan koran, karyawan pembangkit listrik sendiri, semuanya kerja malam. Apa salahnya kalau pegawai PLN bagian pemeliharaan juga bekerja malam.
Tapi ide seperti di Riau itu tidak akan bisa dijalankan di Jakata. Juga di seluruh Jawa. Orang Jakarta sudah terlalu biasa tidur dengan AC. Kalau listrik mati, biar pun jam 00.00 tidak bisa diterima. Mereka bukan lagi pengantin baru. Mereka mengatakan tidak bisa tidur. Ini akan menganggu stabilitas ekonomi keesokan harinya.
Pokoknya lampu tidak boleh mati. Hari apa pun, jam berapa pun. Inilah tantangan yang benar-benar tidak mudah. Tapi harus dilakukan. Kalau pun tidak bisa berubah mendadak, harus ada tahapan-tahapan yang jelas. Harus dicari sistem pemelihataan yang cocok dengan zaman yang sudah berubah ini. Sebagai langkah awal, diputuskan pemeliharaan dilakukan seperti biasa, tapi lampu hanya boleh dimatikan maksimum tiga jam.
Dua hari setelah keputusan itu, saya masih menerima laporan ini: salah satu lokasi di Jakarta masih dilakukan pemeliharaan selama 6 jam! Memang sudah tidak lagi 8 jam, tapi masih belum bisa tiga jam. Inilah salah satu contoh tidak mudahnya perubahan ini. Tapi tidak boleh menyerah. Target harus dicapai. Sudah mulai banyak lokasi yang dipelihara dalam jangka waktu kurang dari tiga jam. Tanggal 30 November 2010 nanti, Jakarta dan seluruh Jawa harus bisa melaksanakan keputusan ini. Dengan segala konsekwensinya.
Bahkan akan ada target berikutnya: bagaimana PLN bisa melakukan pemeliharaan jaringan tanpa mematikan setrumnya sama sekali. Hanya saja, target yang satu ini tidak bisa dilakukan dalam hitungan minggu. Dengan kerja yang luar biasa keras pun mungkin perlu waktu sampai satu tahun. Konsepnya sudah ada: PDKB (Pemeliharaan Dalam Keadaan Bertegangan).
Untuk bisa melaksanakan konsep ini memang harus disusun perencanaannya. "Yang lebih sistematis dan rapi. Bahkan harus disiapkan orang-orang yang bukan hanya memiliki ketrampilan istimewa, namun juga kejiawaan yang khusus. Inilah yang menyebabkan target yang satu ini tidak boleh dilakukan terburu-buru: harus dicari dulu orang-orang yang memiliki ketrampilan dan kejiwaan tertentu itu, harus dididik dan dilatih, dan harus dilengkapi peralatan anti-setrumnya. Akan ada rekruitmen, pendidikan, latihan, dan menganggaran. Itulah sebabnya dalam angaran tahun 2011 soal ini harus dimasukkan.
Di Jakarta saja mungkin diperlukan 1.000 orang dengan kualifikasi seperti ini. Mereka akan dibagi dalam 200 kelompok/regu, masing-masing lima orang. Se Jawa berarti perlu sekitar 5.000 orang. Alangkah rumitnya rekrutmennya, pendidikannya, pelatihannya dan penyiapan alat-alatnya. Mereka inilah pasukan berani matinya PLN ke depan. Berani melakukan pekerjaan pemeliharaan jaringan ketika jaringan itu dalam keadaan sedang mengalir listriknya.
Zaman sudah berubah. PLN jangan ditinggal!
Dahlan Iskan
CEO PLN
Memikirkan 1.000 Kematian Sebulan
23 August 2010
Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 09:08 1 orang memberi komentar
Label: PLN
Janji itu...
02 August 2010
Kemarin saya pergi kebaktian di gereja HKBP Sutoyo di dekat Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saya mengikuti kebaktian jam 6 malam, ya karena ada banyak hal lain yang saya kerjakan sebelumnya. Saya tiba di sana dan sedapat mungkin meresapi kebaktian itu. Namun tiba-tiba saya merasa haru yang mendalam. Saya teringat almarhum ayah saya.
Saya teringat beberapa janji saya yang tidak terealisasi. Dulu ketika saya baru dinyatakan diterima di Institut Teknologi Bandung, saya berjanji bahwa pada ulang tahunnya ke 60, dia akan menyaksikan saya wisuda S2. Namun sayang, karena kemalasan dan memang ketidakberuntungan saya, akhirnya janji itu pun tidak bisa direalisasikan. Lalu saya merevisi janji saya lagi dan mengatakan bahwa, pada 18 Juli 2009 saya akan diwisuda. Hal itu akan saya persembahkan sebagai hadiah ulang tahun untuknya. Namun lagi-lagi, saya tidak mampu merealisasikannya.
Ya, akhirnya saya wisuda juga. 23 Oktober 2009 adalah sebuah tanggal bersejarah dimana saya diwisuda dari ITB. Puas, bangga, senang, merasa sangat diberkati, mungkin semuanya itu adalah perasaan yang hinggap di diri saya. Apalagi kebahagiaan itu semakin lengkap karena didampingi oleh ayah dan ibu saya. Untuk merayakannya, kami ke rumah paman yang ada di Jakarta.
Saya masih ingat, di pagi 24 Oktober 2009 ayah saya minta ditemani pergi ke gereja. Saya tidak ada firasat bahwa itu adalah kesempatan terakhir ayah pergi kebaktian di gereja. Tapi saya tetap senang menemaninya pergi ke gereja, termasuk karena saya juga belum pergi ke gereja hari itu. Jadi kami berdua pergi ke gereja HKBP Sutoyo, gereja yang sama dengan yang saya datangi kemarin. Kenangan inilah yang membuat saya kembali terharu sampai meneteskan air mata...
Di kebaktian terakhirnya, ayahku meneteskan air mata dan aku pun melihatnya.
Saya jadi kembali teringat. Bahwa kemarin adalah tanggal 1 Agustus, dan saya baru saja melupakan tanggal ulang tahunnya, 22 Juli. Sebenarnya saya sudah membeli tiket untuk pulang ke Medan tanggal 22 Juli 2010 lalu, namun karena ada urusan diklat di semarang, akhirnya hal ini tidak bisa direalisasikan juga. Padahal, saya sudah merencanakan ziarah apabila jadi kembali ke Medan.
Ya begitulah, sulit untuk menepati janji. Walaupun begitu, aku akan tetap mengenangmu dan segala nasihatmu dan menjadi seorang anak yang bisa membuat bangga keluarga. Selamat ulang tahun ayahku. Damailah bersama Bapa di Surga.
Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 18:27 1 orang memberi komentar
Label: family
Metamorfosa
05 July 2010
Persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
-sindentosca-
Siapa sih yang tidak suka melihat kupu-kupu. Apalagi kalau kupu-kupu itu terlihat cantik, memiliki sayap lebar dan berwarna cerah. Sambil menari-nari di atas hamparan bunga, mungkin orang dewasa sekalipun akan senang untuk mengejarnya.
Tetapi apabila kita melihat beberapa saat sebelum berubah menjadi indah, kupu-kupu terlihat sangat menjijikkan, berbulu dan kadang berlendir. Perubahan dari fase ulat menjadi fase dewasa inilah yang dinamakan metamorfosa.
Ketika melakukan metamorfosa, seekor kupu-kupu yang masih berbentuk ulat akan menenun kepompongnya sendiri dan sampai beberapa waktu berdiam di dalamnya. Di masa inilah organ-organ tubuhnya terutama sayap berkembang. Proses ini ternyata panas dan sangat menyakitkan. Namun itulah yang harus ditempuh agar bisa berubah menjadi lebih baik.
Seorang manusia juga kadang bisa dianalogikan sebagai kupu-kupu. Awalnya dia jelek dan "menjijikkan", namun dia juga bisa berubah menjadi sangat cantik & menarik. Memang butuh waktu untuk merenung dan belajar untuk berubah, apalagi untuk mengendalikan ego dan kebiasaan-kebiasaan buruk. Kadang butuh "panas", dan pastinya lilitan-lilitan "kepompong". Silahkan maknai sendiri panas dan kepompong anda masing-masing. Lalu berusahalah mengembangkan sayap baru anda dengan kekuatan anda sendiri. Semoga sukses!
Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 22:55 0 orang memberi komentar
Label: psikologi
Anger and Decission
06 June 2010
Lama sudah tak menuangkan ide pikiran dalam blog ini. Sebenarnya ada banyak hal yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, namun ada beberapa hal yang paling berkesan. Pertemuan, membuat keputusan, mengambil langkah masa depan, melihat kekerasan terjadi...dan semua itu meninggalkan jejak penuh warna. Semua warna cerah, dan termasuk hitam di dalamnya.
Malam itu aku teringat akan nasehat almarhum ayahku, "kalah jadi abu, menang jadi arang". Ah, selama ini aku belajar untuk menahan amarah agar tidak pernah menjadi kekerasan. Namun apa dikata, masih dalam tahap membelajarkan diri untuk lebih rendah hati dan menerima keadaan, sehingga malam itu aku ingin menghajar seorang pengendara sepeda motor. Walaupun tidak sampai terjadi, namun emosiku sudah meluap saat itu. Aaargh...jangan lagi lah, aku sudah melihat bagaimana perebutan anak mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga dan berujung kepada jalur hukum. Benar-benar kalah jadi abu, menang jadi arang.
Tentang membuat keputusan, akhirnya dengan bulat tekad aku menghapus seluruh kenangan lama and take a decission to have a new relationship. Aku juga akhirnya mengubah keputusan lamaku yaitu melanjut kuliah ke jerman menjadi bekerja di sebuah badan usaha milik negara. Walaupun atas desakan orang tua dan keluarga juga, tapi amanah tetap akan dijalankan dengan tanggung jawab tanpa ada kata "menyesal" di kemudian hari. Memang di dalam transformasi tahap kedua ini, terlalu sulit rasanya mengambil keputusan yang terbaik, namun semuanya sudah mempertimbangkan resource yang ada saat ini, harapan keluarga, kemungkinan berubah dan resiko-resiko yang mungkin terjadi di masa depan. Aku berharap, sebuah kalimat yang kutuliskan sekitar 7 tahun lalu di binderku bisa menjadi nyata di tempat kerja yang kupilih ini.
Dr. Wijoyo Batara Frans Simanjuntak, ST, MBA
Dirut PT. PLN (persero)
Dosen ITB
Note:
- ST bukan Sintua tapi Sarjana Teknik
- MBA bukan Married By Accident tapi Master of Business Administration
Walaupun masih jauh di depan dan banyak hal yang mungkin terjadi, tapi mari kita amin kan dulu lah. Hehehe. In God we trust. GBU
Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 02:03 5 orang memberi komentar
Label: cinta, me and myself, quote
in 10, 20, 40 years
26 April 2010
I don't know where we're gonna be in 10, 20, 40 years. I don't know who we're gonna be. I don't know if I'm ever gonna be able to give her all of this. There are a million things that I don't know. But there's one thing that I do. And that's that I love Sarah. And I am going to love her day in and day out for the rest of my life. Now, will you please... please... open the gate so I can tell that to my wife.
Mungkin suatu saat nanti aku akan mengucapkannya buat seseorang? Ya...dengan mengganti Sarah dengan nama seseorang itu. Who knows?

Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 20:06 2 orang memberi komentar
Label: quote
Struggling with Problems
14 April 2010
Watching these few months, I'm struggling with so many problems indeed, some of them can be solved, the rest can't. Yupe, that's the real life that I have to face day by day.
Let's talk about the last psychotest held by telkomsel. What a bad luck it is. Frankly speaking, that's my first time to be tested in psychology term and asked about my daily activities during my four years study in Bandung Institute of Technology. Not bothering my self-confidence nor distracting my mind, just being a new experience...hahaha. What so ever, I'll keep enforce myself to reach a new good job before going to Germany in order to continue my study.
Then, about scholarship. I myself realized that I worked too slow in finding scholarship. Maybe because I've been guaranteed by my parents that I could study with my own. That's one of my biggest weakness besides moody and sluggish...OK, I decide to spend more time at night in crawling scholarship websites and it will be valid since tonight. I hope so...
Last, about the romantic issue. Hello! I've tried to forget her and found my autumn. But please, give me more time to make it lost naturally. Trust me, the time will erase those memories gradually. :-)
Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 18:40 2 orang memberi komentar
Label: me and myself
Ngantri di PCD
26 March 2010
Jam 7 kurang dikit terbangun dari tidur, langsung ngeliat ke jendela. Tampak perumahan "masa depan regency". Oya, beberapa hari yang lalu ada seseorang yang menghuni kavling di perumahan itu. Ga tau cewe atau cowo, yang jelas sekarang jadi tampak lebih rapi dan lebih jelas keliatan.
Huaa...lapar! Liat ke bawah cuma ada donat buatan kak depsi, yasud itu aja diembat. Trus dibuatin teh manis plus krimer dan tadaa...nyalain komputer, liat PCD, astra dan buka fesbuk plus eRep...eh, ada email masuk dari Telkomsel. Disuruh psikotes di jakarta ceunah
Siang-siang ke kampus, rencananya sih mau masukin lamaran buat ke PLN. Antara niat ga niat juga sih, soalnya di sana ga ada temen. Sampe di kampus, parkir motor di arsi, langsung jalan ke depan mesjid salman. Rencananya mau beli kaus kaki yang harga 5000 dapet 3. Eh...hujan turun, ga jadi beli deh. Selang semenit kemudian, hujan badai bok! Teringat tadi itu helm masih di motor, ga dibawa, yaaah :(
Tapi tenang aja, tepat pada waktunya ada seorang cewe sendirian megang payung. Langsung aja nebeng, hehehe. Rada serem juga tuh cewe, diajak ngomong..eh, ngomongnya irit pisan! Ketakutan? hmmm, mungkin juga, hahahaha.
Langsung ke PCD...busyeet...naujubillahbinsyaiton. Antriannya sampe mengular ke luar ruang PCD. Udah kayak bagi-bagi BLT aja antriannya. Itu tuh masih jam setengah dua lho...alhasil, satu setengah jam ngantri.
Intinya: Capeee deeh!
Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 20:46 0 orang memberi komentar
Label: activities
Kalimat pertama
16 March 2010
Di sebuah Wine Shop
Pelayan: Silahkan masuk Ko, dilihat-lihat dulu, ada yang "bla-bla-bla[wine dari brand terkenal]" juga Ko
Teman: Joy, kau dipangil Koko lho...
Saya: ho oh, gw emang ada keturunan cina nya kaleee...
Teman: cina dari hongkong??? wkwkwk
loe liat aja sendiri, mata udah sipit gini, kulit pun warnanya "putih tua", apa lagi yang kurang?
=====
Di restoran hotel Telagasari,
Saya: anjriit, udah 60rb aja bubur malam sekarang
Resepsionis: iya Mas, sudah sebulan kok
Temen: udah joy, ntar disubsidi silang deh...
kayaknya kondisi keuangan udah semakin memburuk aja
=====
Di sebuah bukit beberapa saat setelah kecelakaan mobil
Teman: Wuih...seru banget yah yg tadi, ntar kapan2 kita coba lagi yuk
Saya: #&@%...grrr...!
Sendirian aja deh bro, udah untung kita masih bisa bernafas
=====
Di sebuah kafe
Teman 1: eh, kenapa yah nama cafenya "Bebek B'tutu"?
Teman 2: mungkin karena khas Bali...?
Saya: ah, terserah lah...gw mah lebih demen "Bebek Betulan"
emang lebih enak bebek betulan daripada bebek boongan...
=====
Di kosan temen:
Saya: Bro...jalan yok!
Teman: aduh, gw lagi ngantuk Joy...boker dulu yah...
Saya: ???
di beberapa daerah di Indonesia, ngantuk dan boker memiliki hubungan yang erat!
Ditulis oleh Wijoyo Simanjuntak pukul 10:39 4 orang memberi komentar
Label: activities, quote
